Cerpen "Mengapa Bulan Memilih Tenggelam"
Mengingat kenangan ketika masih kecil dulu, ibu sering menemaniku menanti senja sembari mengusap-usap kepalaku dan menceritakan kisah-kisah tentang Dewi Bulan di beranda rumah. Pada malam harinya ibu kembali menemaniku untuk menatap keindahan rembulan dan mendengarkan nyanyian ombak lautan. Rumah kami di kampung tak jauh dari pantai. Setelah beranjak dewasa dan pergi merantau, ketika pulang ke rumah, aku selalu menyempatkan untuk melakukan ritual masa kecil itu. Kini aku tidak lagi hanya mendengarkan nyanyian lautan seperti dahulu. Aku mendapatkan keahlian baru, memetik senar gitar dan menyanyikan lagu-lagu untuk Dewi Bulan. Anggap saja begitu. "Langit malam menjadi muram dibelai suaramu." Ibu bergabung duduk bersila di beranda. "Mengapa Ibu berkata begitu?" tanyaku penasaran, "malam tidak pernah muram, Bu, hanya saja gemintang enggan menemaniku malam ini," jawabku putus asa teringat kenangan masa lalu. Bintang tidak akan pergi seperti Bulan. Tak per...