Cerpen "Siapa Yang Mau Jadi Rakyat?"

Menjelang tengah hari, beton-beton perlahan merekah seiring dengan gerakan ganco yang dihantam-hantamkan ke tanah. Terlihat melelahkan, namun pekerjaan ini terasa biasa saja bagi Mbah Melas. Usianya yang hampir mencapai tujuh puluh, tidak menjadi alasan bagi Mbah Melas untuk tidak bekerja. 

Istrinya masih sehat, anaknya dua sudah berkeluarga dan merantau. Dua cucunya ikut Mbah Melas, karena anak Mbah Melas yang kedua, orang tua kedua anak tersebut meninggal menjadi korban kecelakaan tiga tahun lalu. 

Jadilah Mbah Melas menjadi tulang punggung keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, mengisi perut, dan keperluan cucu-cucunya sekolah. Yang besar kelas 3 SD, adiknya baru tahun ini masuk TK. Mbah Melas kerja apa saja di kampungnya, bisa menjadi buruh tani, jika ada acara di desa bisa menjadi satpam, kadang apabila ada yang mengajak, ia akan bergabung bersama dengan tetangganya ikut bekerja menjadi kuli bangunan di desa sebelah, pernah sampai di kota kabupaten. 

Mbah Melas hanya punya sepetak sawah yang ia kerjakan dengan istrinya. Tidak besar, tetapi lumayan jika ditanami padi. Apabila telah tiba waktu panen, karung-karung gabah- padi yang telah dijemur dan siap digiling untuk menjadi beras, bertumpuk-tumpuk di rumahnya. Tidak dijual, untuk besok dimakan sendiri. 

Kali ini pekerjaan ngulinya berada di luar kabupaten tempah Mbah Melas tinggal. Ratusan kilometer jauhnya. Seminggu sebelum berangkat, kawan kulinya mengatakan kalau Mbah Melas tidak harus ikut pekerjaan kali ini. Mungkin kasihan, mungkin khawatir orang tua ini malah nantinya akan merepotkan disana, begitu pikir Mbah Melas. Namun ia menyanggupi, kali ini anggukannya lebih mantap daripada dahulu ketika ditawari bekerja menjadi kuli. Ini kesempatannya untuk melihat dunia luar, karena tak pernah sekalipun sebelumnya Mbah Melas pergi sampai keluar kabupaten.

Rumah kosong berdebu menjadi tempat tinggal sementara bagi kuli-kuli. Tidur berjajar dialasi tikar anyaman. Tidak berbantal. Mandi paling hanya sekali dalam sehari, di sore hari, selepas rampung berkawan dengan ganco, menghancurkan beton-beton jalan, mengeduk tanah agar selang-selang besar milik perusahaan air yang bekerjasama dengan pemerintah dapat dipendam di dalamnya, mengalir ke rumah-rumah penduduk. Tiap kali makan, hanya dengan nasi bungkus, lauk tempe dengan sayur, perkedel, telur, kadang ayam goreng.

Pemilik rumah yang jalan depannya digeruk oleh Mbah Melas, keluar. Menawari segelas kopi. Batinnya, kasihan, sudah tua.

"Teh saja, Bu."

Tidak sampai setengah jam, seorang ibu yang usianya kurang lebih enam atau lima tahun lebih muda dari Mbah Melas keluar dari rumah, dengan nampan berisi gelas-gelas, untuk kuli-kuli lainnya.

Baik sekali ibu ini. Mbah Melas, berujar dalam hati.

"Panjenengan asli pundi?" tanya ibu itu dengan Bahasa Jawa krama, yang artinya, 'anda berasal darimana?'

"Blora, Bu."

"Jauh sekali. Silakan diminum, sebelum nanti dingin."

"Iya. Terima kasih, Bu."

Melihat tetangganya membawa senampan minuman, seorang ibu berkedurung, tetangga sebelah rumah ibu itu datang membawa sepiring pisang goreng, masih hangat nampaknya.

Mbah Melas berhenti sejenak dari pekerjaannya, mengucapkan matur nuwun, terima kasih. Seperti ibu tadi yang memberi senampan minuman, ibu berkerudung ini bertanya asal rumah Mbah Melas, dengan ekspresi terkejut ia mengatakan hal yang sama, jauh sekali. Mungkin dalam benak mereka, kasihan sekali orang yang seharusnya di usia senja tinggal duduk saja di rumah, dirawat oleh anak-anaknya, kini masih harus bekerja, menghancurkan jalan beton, mengeduk tanah.

Tengah hari, Mbah Melas masih melanjutkan pekerjaannya. Apabila terasa lelah, ia istirahat, duduk sambil mengisap rokok linting berbau menyan. Khas simbah-simbah. Melamun, memandang sekitar. Pohon-pohon hijau yang tumbuh tinggi membuat teduh tempatnya duduk. Beralaskan tanah lembab, musim hujan telah datang.

Dua kawan kulinya menyeruput kopi, menyantap pisang goreng, ketika Mbah Melas kembali melanjutkan pekerjaan. Menonton Mbah Melas yang sibuk mengeduk tanah dengan cangkul.

Sudah hampir empat jam, pekerjaan ini belum tuntas. Bungkusan makanan yang sejak satu jam tadi dibagikan oleh seorang laki-laki yang datang menunggangi motor brong, masih terbungkus belum disentuh. Kuli-kuli masih melanjutkan pekerjaannya, meskipun telah lewat tengah hari dan azan zuhur sudah berkumandang satu jam yang lalu.

Mbah Melas kembali istirahat, mengisap sebatang rokok. Asap mengepul di atas kepala Mbah Melas yang tertutup rambut putihnya yang tipis, dari jauh orang pasti akan mengira jika ia gundul, topi koboinya ia letakkan di tanah. 

Kemarin, tanda gambar masih berdiri berjajar di pinggir-pinggir jalan. Hari ini poster dengan gambar orang-orang yang menebar janji-janji sudah tidak ada. Mbah Melas ingat, mungkin sudah hari tenang, maka poster-poster itu harus disingkirkan oleh petugas.


Hampir dua bulan ia pergi, meninggalkan kabupaten asalnya. Sama dengan disini, di kabupaten asal Mbah Melas, poster-poster juga terpajang di jalanan. Juga di rumah Mbah Melas, yang sudah ditempel poster salah satu pasangan calon. Pendukung paslon tersebut berpesan untuk memilih jagoannya. Mengatakan jika terpilih, maka paslon ini akan menyejahterakan rakyat kecil, contohnya seperti Mbah Melas. Mbah Melas hanya menyimak, mengangguk.

Mbah Melas menghormati pendukung pasangan calon tersebut untuk berkampanye. Mendukung jagoannya. Sebenarnya Mbah Melas adalah orang yang melek politik. Tidak gampang ikut sana-sini. Mbah Melas bukan orang yang mudah disuap. Meskipun ia miskin, beras, sembako, dan uang yang dibagi-bagikan oleh pendukung pasangan calon menjelang hari pemilihan bukanlah hal yang dibenarkan oleh Mbah Melas. Ia lebih menuruti kata hati, nurani yang menuntun Mbah Melas untuk memilih siapa yang pantas, layak untuk dipilih.

Kuli-kuli lainnya akhirnya istirahat, menyantap makan siang. Menu hari ini sangat menggoda, telur balado dan sayur daun pepaya, cacing-cacing perut sudah meronta meminta makan sedari tadi. 

Mbah Melas yang terakhir bergabung, setelah merampungkan bagiannya. Ia sadar badan tuanya tidak mampu mengimbangi kecepatan bekerja kawan-kawannya yang masih muda, lebih bugar dibanding dirinya. Meskipun ia masih sehat, kuat, namun fisiknya tidak sekuat dahulu. Mbah Melas adalah orang yang gigih, semangat bekerja masih menggelora dalam darahnya- demi istri dan cucu-cucunya di rumah.

Selesai makan, salah satu kuli membuka obrolan.

"Siapapun pemimpinnya, aku tetap menjadi seorang kuli. Mereka tetap jadi tani, nelayan, tukang parkir, pemulung. Kita tetap saja jadi wong cilik," kawan kuli lainnya mengangguk, "toh, kata-katanya waktu kampanye halus pol, janji ini itu. Sudah terpilih, dilantik, lupa janjinya. Rakyat kecil seperti kita ini cuma bisa menggerutu. Kalau kita bersuarapun belum tentu didengar oleh mereka."

"Tapi toh, Pak, kalau kita memilih pemimpin yang visi misinya jelas, benar-benar merakyat, senang duduk bareng rakyat, dengar keluh kesah rakyat. Tidak hanya mengumbar janji bagus tapi tidak merakyat, jangan pilih pemimpin yang model begitu. Nanti kita rakyat kecil hanya bisa diinjak-injak saja," kuli lain ikut menimpali.

"Betul itu. Ingat, ketika mencalonkan diri ada yang pura-pura dekat dengan rakyat. Suka bantu sana sini, mengambil hati rakyat. Setelah jadi, ketika menjabat, kebijakannya malah membuat susah rakyat." melas, kasihan apabila melihat wajah bapak ini. Nampaknya beban di rumah sangat berat, hingga ia pikul sampai di sini.

"Aku sedih, Pak."

"Mengapa sedih, Mbah Melas?"

"Saat ini kita tidak sedang di kabupaten asal kita, tidak bisa ikut memilih."

"Wah, iya bener juga, Mbah. Semalam istri saya telfon, katanya sudah dapat uang panas."

"Padahal satu suara kita sangat berharga. Tapi keadaan begini, tidak bisa ikut mencoblos. Bagaimana lagi, kita harus bekerja jika ingin perut kenyang. Tidak bisa terus berpangku tangan menunggu bantuan dari pemerintah."

"Ya, Mbah. Saya juga tidak bisa mencoblos jagoan saya besok."

Padahal sejak dua bulan yang lalu, sebelum berangkat nguli kesini, Mbah Melas sudah menyiapkan baju batik favoritnya untuk datang ke Tempat Pemilihan Umum, ikut menyalurkan suaranya.

"Siapa yang mau menjadi rakyat? Jika bisa ya seperti mereka, menjadi pejabat. Hidup terjamin, diberi gaji tiap bulan, malah ada pejabat yang diberi rumah bagus tapi tidak dihuni, katanya rumahnya jelek, banyak yang sudah rusak, tidak layak huni menurutnya. Mereka tidak tahu rumah saya bagaimana, reot." terang Mbah Melas. Kawan-kawan kulinya mendengarkan, mengangguk-angguk. Sependapat dengan Mbah Melas.

"Pejabat yang kaya semakin kaya. Mereka suka memperkaya diri sendiri. Rakyat? Yang susah tambah melarat. Anak-anaknya menangis, kelaparan. "

Begitulah nasib. Siapa yang mau menjadi rakyat yang terus dikelabuhi oleh pejabat?


 

Komentar

Postingan Populer