Cerpen "Mengapa Bulan Memilih Tenggelam"
Setelah beranjak dewasa dan pergi merantau, ketika pulang ke rumah, aku selalu menyempatkan untuk melakukan ritual masa kecil itu. Kini aku tidak lagi hanya mendengarkan nyanyian lautan seperti dahulu. Aku mendapatkan keahlian baru, memetik senar gitar dan menyanyikan lagu-lagu untuk Dewi Bulan. Anggap saja begitu.
"Langit malam menjadi muram dibelai suaramu." Ibu bergabung duduk bersila di beranda."Mengapa Ibu berkata begitu?" tanyaku penasaran, "malam tidak pernah muram, Bu, hanya saja gemintang enggan menemaniku malam ini," jawabku putus asa teringat kenangan masa lalu.
Bintang tidak akan pergi seperti Bulan. Tak pernah semenjak itu kulihat senyum dan keindahan matanya ketika dahulu mencuri pandang untuk menatap mataku. Namun dahulu, mengapa Bulan benar-benar datang dalam hidupku? Mungkinkah anugerah dari Tuhan, karena dahulu aku selalu mendambakan sosok seperti Dewi Bulan. Namun, dia bukanlah Dewi Bulan yang dahulu ibu kisahkan. Dia adalah Bulan.
Kini, aku mencoba beralih darinya, menerima yang mampu mengerti aku lebih dari Bulan. Senja. Dia mampu menyambung kembali semangatku yang sempat patah karena ditinggalkan Bulan. Apabila dahulu, Bulan adalah maha karya Tuhan, ciptaan-Nya yang aku idam-idamkan, entah bagaimana aku bisa jatuh hati pada Bulan. Ia tak mengorbit pada bumi. Bulan mengorbit pada poros hati dan saraf-saraf yang saling tertaut di otakku.
Setelah Bulan tak lagi hadir dalam bola mataku, hadir Senjani. Sosok yang mendorongku untuk semangat melanjutkan hidup. Ia adalah warna warni yang memenuhi kanvasku yang sempat gelap oleh luka. Senjani memberi cinta berbentuk kesabaran untuk mendengar, memahami, dan mendukung hidupku agar terus berevolusi. Tumbuh menjadi Bintang yang menyinari hidupnya sendiri dengan cahaya yang ia punya. Tetapi Senjani tidak tahu jika masih ada ngilu yang masih membiru.
Seringkali terbesit pertanyaan, mungkinkah Senja hanya pelampiasan laraku akibat ditinggal oleh Bulan?
Bulan, dia tenggelam, entah mati atau masih hidup dalam lautan. Lautan kasih dan harapan yang dahulu kami selami. Mungkin. Atau hanya aku saja yang merasa begitu.
Yang aku sesali, dahulu aku tak pernah berani untuk mengatakan kepada Bulan mengenai perasaan ini. Aku juga tak berani bertanya kepada Bulan mengenai perasaannya kepadaku. Sesekali ia mengatakannya secara tersirat. Entahlah, aku tak tahu. Ketika menyelami mata dan kata-katanya, sebenarnya kami memiliki perasaan sama yang saling terkoneksi. Hanya saja dia memiliki caranya sendiri untuk mencintaiku.
"Menurut Ibu, Bulan sudah benar, Bintang."
Ibu, berpihak kepadanya.
Kuputuskan untuk kembali ke perantauan, menemui Senja. Caraku untuk melupakan Bulan.
"Relakah kamu jika bintang lebih memilih menemani bulan dibanding senja?"
"Tuhan menakdirkan mereka, bulan dan bintang bersama untuk menemani malam," dia tersenyum.
"Menurut Ibu, Bulan sudah benar, Bintang."
Ibu, berpihak kepadanya.
Kuputuskan untuk kembali ke perantauan, menemui Senja. Caraku untuk melupakan Bulan.
Senjani mengajakku keluar untuk melihat keindahan senja di pantai. Kami hanya diam menatap gelombang dan lautan sampai senja menghilang dan malam menghadirkan bulan yang malam ini terlihat cantik seperti khayalanku bagaimana Dewi Bulan yang sering ibu kisahkan. Horizon tak lagi memamerkan rona kemerahan. Lautan tampak gelap. Seperti halnya hatiku yang masih diselimuti ruang gelap penuh harap dan tanya yang tak kunjung menemui jawab. Karena sebenarnya jawaban itu sendiri telah menemaniku selama ini.
Wajah Senjani tampak riang melihat sisa-sisa berkas kemerahan di sudut langit. Bulan nampak tegar duduk sendiri di singgasananya. Di lautan gelap, bayangnya bak cat putih yang tumpah. Menciptakan keindahan.
"Mengapa malam ini, bintang tidak menemani rembulan?" Akhirnya Senja membuka perbincangan.
"Mengapa malam ini, bintang tidak menemani rembulan?" Akhirnya Senja membuka perbincangan.
"Relakah kamu jika bintang lebih memilih menemani bulan dibanding senja?"
Aku mengatakan itu dengan raut wajah serius.
Dia heran. Mungkin bertanya-tanya mengapa aku bertanya demikian. Lama dia menatap rembulan. Ia tahu ke mana arah pertanyaanku. Pertanyaan yang spontan terlontar karena pikiranku sedang berlayar pada kenangan masa lalu dengan Bulan.
"Tuhan menakdirkan mereka, bulan dan bintang bersama untuk menemani malam," dia tersenyum.
Aku mengangguk. Menyimpulkan perbincangan kami petang ini. Bulan ada untuk menemani bintang. Namun, akankah ia, Bulan, yang gemar memberiku secarik puisinya kembali hadir di setiap hari aku berotasi, merepetisi hari-hari kemudian kami akan selalu melempar tawa bersama?
Keesokan hari ketika senja kembali tiba, aku harus menemui Senjani. Ada sesuatu hal penting yang harus aku katakan. Sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur semalaman. Yang mengganjal di hati harus segera diselesaikan. Tidak bisa tidak.
Keesokan hari ketika senja kembali tiba, aku harus menemui Senjani. Ada sesuatu hal penting yang harus aku katakan. Sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur semalaman. Yang mengganjal di hati harus segera diselesaikan. Tidak bisa tidak.
Aku katakan bahwa aku akan menemani Bulan. Lebih tepatnya menunggu Bulan. Menjelaskan padanya, bahwa sembilu karena Bulan masih membiru. Sajak-sajak puisi Bulan masih tertancap kuat di dasar hatiku.
Sudut mata Senjani basah. Ia kecewa akan keputusanku. Aku jelaskan padanya, bahwa katanya bintang ditakdirkan untuk menemani bulan. Senja mengerti. Dia pergi seiring dengan warna warni senja yang meninggalkan bumantara.
Aku berdiri mematung, menanti bulan dan bintang. Aku tatap mata langit yang nampak sendu tanpa hadirnya bulan malam ini karena jajaran awan hitam menyelimuti. Suara berisik ombak menabrak tembok pembatas pantai menemani kesunyianku dalam merenungi perjalanan yang akan aku tempuh untuk mencari bulan. Dan memikirkan pertanyaan yang kian pasang, mengapa Bulan memilih tenggelam.
Komentar
Posting Komentar